Dipitnah
Senin, 5 Oktober 2009
hari ini saya terpaksa beli sayur di tukang sayur yang bukan langgananku karena mang sayur langgananku tak kunjung datang padahal saya harus belanja sayuran. Saya ketemu dengan para pembantu tetangga dan seorang ibu tetangga juga yang sedang belanja. Saya menyalaminya dan mengucapkan ‘minal aidin’ karena memang belum sempat mengucapkannya. Ntah darimana, pembicaraan kami bergulir ke hal arisan. Saya pikir arisan minggu depan, ternyata arisan kemarin dan saya tidak tahu arisan itu kemarin, saya tidak dapat undangannya. Tapi saat ibu itu bilang begitu, saya diam aja, tidak klarifikasi. Dan lebih bodoh lagi, ketika ibu itu bilang bahwa saya tidak pernah datang arisan, saya diam saja! Padahal saya pernah ikut 2 x! Kayanya saat itu saya malas membahasnya. Seorang pembantu bertanya siapa saja yang menang arisan kali ini, tapi saya tidak tertarik mengikuti. Setelah selesai, saya bergegas pulang. Hal ini menjadi perenungan sepanjang hari itu. Semakin direnungkan, semakin marah saya. Apalagi terngiang perkataan seseorang ‘jangan biarkan apa yang ada padamu, apa yang baik, difitnah’. Wah, saya merasa saya sudah difitnah….apa yang dikatakan bahwa saya tidak pernah arisan itu tidak benar! Tapi memang saya juga bodoh…kenapa diam saja….seharusnya lawan donk! Lawan, bukan karena ga mo disalahin, tapi karena memang saya tidak salah:
-
Saya tidak dapat undangan sehingga saya tidak tahu ada arisan kemarin. Tetangga yang lain, yang menyampaikan undangan -saya ketemu juga pagi itu di tempat yang berbeda- bilang bahwa Sabtu pagi sudah antar undangan ke pagar rumah saya, padahal saya keluar kota sejak kamis dan baru pulang Sabtu malam. Undangannya pasti kena hujan dan ntah kemana kalau tidak dimasukkan ke bawah pintu. Jadi saya memang tidak tahu!
-
Saya pernah datang arisan, walaupun hanya 2 x. Pernyataan bahwa saya tidak pernah arisan itu berarti salah kan….harusnya diklarifikasi, karena itu tidak benar. Seharusnya bilang bahwa saya jarang arisan, bukan tidak pernah. Wah ada berapa telinga lho saat itu, ya para pembantu dan tukang sayur….coba bayangkan, apa yang mereka pikirkan tentang saya…..saya bisa dianggap warga yang ga bener kan…padahal saya ini orang benar dan memang berusaha hidup bener!
-
Kalau saya tahu ada arisan…sebagai warga yang baik, saya pasti datang. Tapi jika ada kegiatan lain dan itu lebih prioritas, tentu saya dulukan kegiatan saya itu, karena saya bukan ibu yang tidak punya kerjaan dan ibu-ibu yang punya waktu luang banyak….saya wanita bekerja yang memang banyak aktivitas lain. Saya bertanggung jawab dengan segala bagian saya dan saya punya prioritas!
-
Sekalipun saya ga datang arisanpun, kewajiban bayar arisan pasti saya penuhi…tidak pernah saya sembunyi….bisa cek pada Ibu bendahara yang sering saya titipi uang arisan!
Semakin direnungkan, semakin saya kesal pada ibu ybs – terlebih ternyata di rumahnyalah arisan kemarin- nampaknya dia tidak menyukai saya…tapi ah, perduli amat! Saya ampuni dia dan berjanji akan menunjukkan bahwa saya akan rajin arisan dan berkontribusi pada lingkungan misalnya jadi panitia 17an dsb. Yang penting saya hidup bener, dan kalau ada orang yang tidak benar, saya harus bertindak sesuai kapasitas saya. Jadi sebuah pelajaran juga sih, bahwa saya harus ‘unjuk taring’, jangan polos2 aja, mereka harus tahu bahwa saya ini dewasa dan berani. Saya udah ibu2, men, dan saya berpendidikan (S1 ITB men), selain saya juga dewasa rohani kan (dah mateng di pelayanan)….so show itu! Kalau ada kejadian seperti ini lagi…lawan!